Metro, Jakarta - Pedagang kios dan operator kapal wisata di Taman Impian Jaya Ancol membantah pernyataan manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol yang mengatakan memberikan akses masuk gratis.

"Buktinya kami bayar, beli pake uang pribadi. Entah belinya tiket harian atau kartu akses yang tahunan,” ujar Didi, seorang pedagang resmi di Pantai Ancol, Jakarta Utara, Senin, 18 September 2017.

Baca juga: Djarot: Masuk Ancol Gratis untuk Hidupkan Kuliner dan Pasar Seni

Senada dengan Didi, operator kapal wisata, Bambang, juga membeli tiket masuk dengan uang pribadi. “Saya enggak punya kartu akses tahunan. Paling kalau habis pulang dari kampung di Indramayu setiap seminggu sekali, mau masuk lagi bayar Rp 25 ribu,” kata pria yang sudah 30 tahun menjadi operator kapal wisata itu.

Kartu akses masuk ke Ancol selama setahun dijual seharga Rp 1 juta per orang. Kartu tersebut hanya berlaku untuk satu orang dan tidak bisa dipindahtangankan.

Pedagang kios dan operator kapal wisata biasanya membuat kartu akses jika sedang ada harga promo. “Kayak sekarang, katanya pada mau bikin (kartu akses) karena lagi murah,” ucap Didi.

Kepala Komunikasi Korporat PT Pembangunan Jaya Ancol Rika Lestari mengklaim para pedagang dan operator kapal wisata binaan perusahaan diberikan kartu akses gratis masuk ke Ancol. “Jumlahnya ada 120 orang. Mereka semua kita kasih seragam dan kartu akses masuk,” tuturnya di Ecovention, Taman Impian Jaya Ancol, Senin.

Rika menuturkan pengelola telah memberikan akses yang terjangkau khusus untuk warga Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. “Setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 05.00 hingga 08.00, warga Pademangan yang ingin masuk ke Ancol hanya dipungut Rp 5.000 per orang,” katanya. Hal tersebut dilakukan karena Taman Impian Jaya Ancol berada di Kecamatan Pademangan.

Mekanismenya, ujar Rika, cukup dengan memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) bagi orang dewasa dan fotokopi kartu keluarga untuk anak-anak. Rika menyatakan, setiap Sabtu dan Minggu, lebih-kurang ada empat ribu warga Pademangan yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Lisa, yang sejak kecil tinggal di Pademangan dan kini menjadi pedagang kios di Pantai Ancol, menilai fasilitas tersebut sangat kurang. “Dulu, warga Pademangan dijanjikan dapat fasilitas khusus, tapi mana buktinya? Tiket masuk Rp 5.000 itu kan hanya untuk dua hari dan jamnya dibatasi. Sedangkan saya harus masuk ke Ancol setiap hari untuk berdagang,” ujarnya.

Wanita yang sudah 25 tahun menjadi pedagang kios di Ancol itu mengeluhkan pengunjung Pantai Ancol semakin sepi. Sepuluh tahun lalu, setiap Sabtu dan Minggu, Lisa bisa memperoleh sedikitnya Rp 5 juta.

Namun enam tahun belakangan pendapatannya anjlok menjadi Rp 500 ribu setiap akhir pekan. Padahal dia harus membayar ongkos sewa kios Rp 10 juta per bulan.

Menurut Lisa, salah satu penyebab sepinya pengunjung adalah tiket masuk Ancol yang semakin mahal. Pada dasawarsa lalu, ongkos masuk per orang hanya Rp 10 ribu. Kemudian naik menjadi Rp 15 ribu dan kini Rp 25 ribu.

Biasanya, orang-orang yang belanja ke kios kecil, seperti milik Lisa, berasal dari kalangan menengah ke bawah. Menurutnya, untuk tiket masuk saja, pengunjung tidak mampu membayarnya. “Jadi siapa yang mau beli dagangan saya. Apalagi sekarang sudah banyak restoran yang masuk juga,” ucapnya.

Pekan lalu, puluhan orang dari Gerakan Rakyat Jakarta Utara (GRJU) menggelar demonstrasi di pintu barat Taman Impian Jaya Ancol. Mereka menuntut pengelola Ancol, PT Pembangunan Jaya Ancol, mengembalikan akses bagi warga Jakarta Utara untuk bisa memasuki kawasan Pantai Ancol.

Simak juga: Pembangunan Jaya Belum Sanggup Menggratiskan Tiket Masuk Ancol

Aksi GRJU mendapat perhatian dari Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Djarot mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya sudah lama punya gagasan untuk membebaskan pengunjung masuk ke Pantai Ancol.

Menurut Djarot, seharusnya pengunjung hanya dikenai biaya parkir setiap kali masuk kawasan Ancol, sementara pejalan kaki bebas memasuki Pantai Ancol.

DWI FEBRINA FAJRIN | UWD