Nasional, Jakarta - Setelah CEO Telegram Pavel Durov, CEO Setelah Telegram, Rudiantara Bertemu Facebook Soal Konten Radikal

“Dulu kan saya hanya berkomunikasi lewat email jadi mungkin tidak sampai langung ke Pavel tapi ditangani anak buahnya,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.
 
Pemblokiran konten terorisme di Telegram namun hanya akan diterapkan pada channel konten yang bersifat publik. Telegram sendiri memiliki dua channel yang bersifat publik seperti media sosial Twitter, dan channel pribadi yang bersifat encrypted.
 
CEO Telegram menegaskan bahwa percakapan pribadi yang bersifat encrypted masih tidak dapat bisa diakses oleh pemerintah atau siapa pun. 

Silakan baca:
Alasan Cabut Blokir Telegram Pasca Temu Rudiantara - Pavel Durov  

“Untuk konten publik kita punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menurunkan konten terorisme. Walaupun sebetulnya ketika pengguna sudah setuju dengan terms and conditions kita ketika mau memakai Telegram, mereka dilarang memuat konten negatif seperti radikalisme, pornografi, dan terorisme,” kata Pavel.
 
Pavel Durov juga menjelaskan bahwa tugas utama Telegram adalah untuk meningkatkan kecepatan aplikasi komunikasi tersebut untuk menurunkan konten-konten yang berbau terorisme.  “Karena sekarang kita udah punya tim yang bisa menggunakan bahasa Indonesia, kita bisa dapat mengidentifikasi yang mana saja konten-konten terorisme tersebut,” kata Pavel.
 
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan juga menjelaskan bahwa Undang-Undang Telekomunikasi melindungi konten pribadi apa pun isinya.  “Yang kita bicarakan adalah propaganda yang di channel publik Telegram yang menyentuh banyak orang. Kalau percakapan pribadi ya pribadi. Sudah tertulis di UU Telekomunikasi negara harus melindungi pembicaraan pribadi,” kata Semuel. 
 
PUTRI THALIAH