Dunia, Teheran - Ebrahim Raisi merupakan penantang utama Presiden Hassan Rouhani, pada pemilihan presiden Pilpres Iran, Pertarungan Garis Keras dan Moderat

Selama masa kampanye sebagai calon presiden, Raisi fokus pada masalah ekonomi dan mengentaskan kemiskinan. Hal itu juga disampaikan saat bertemu dengan para pendukungnya di makam Imam Reza di Mashhad.

"Saya menghadirkan para pekerja, petani, dan kaum perempuan," ucapnya.

Dalam kampanyenya, Raisi mengatakan, angka pengangguran di Iran mencapai 12,5 persen dan hampir setiap orang merasakan kemandegan ekonomi.

"Ekonomi Iran tidak berkembang, pertumbuhannya sangat lambat," katanya.

Baca juga: Pemilu Iran, Ali Khamenei Tak Peduli Siapa Jadi Presiden

Mengenai nuklir, Raisi tidak menentang kesepakatan antara Iran dan negara-negara Barat sehingga sanksi ekonomi dunia dicabut. Tetapi, dia mengatakan, negosiasi pemerintah sangat lemah dan diarahkan oleh musuh.

Raisi juga menyinggung soal kebijakannya jika terpilih menjadi presiden yakni melonggarkan aksi massa, membebaskan pemimpin oposisi dari terali besi yang ditahan sejak 2009 menyusul unjuk rasa jalanan.

"Iran tidak akan memberikan ampun kepada pengadilan sesat," ucapnya pada 2014.

Karir Raisi di pemerintahan diawali dengan menjabat sebagai Jaksa Agung, pengawas lembaga siaran pemerintah IRIB dan jaksa bagi pengadilan khusus ulama.

Baca juga: Jajak Pendapat, Rouhani Bakal Menang di Pemilihan Presiden Iran

Pria 56 tahun itu selalu mengenakan surban berwarna hitam sebagaimana dikenakan Rasulullah Muhammad.

Ayah Raisi adalah seorang ulama di Mashhad yang meninggal ketika Raisi masih berusia lima tahun. Selanjutnya, dia dimasukkan ke  pondok pesantren untuk anak-anak hingga dia lulus dan pindah ke kota suci Qom pada 1975.

Setelah Revolusi Iran 1979, dia mengikuti seleksi untuk pelatihan khusus untuk menjadi ulama dan belajar langsung dari Ayatullah Ali Khamenei, yang belakangan menjadi Pemimpin Agung.

Pada 1985, di pertengahan Perang Iran-Irak, dia ditunjuk menjadi wakil jaksa di Pengadilan Revolusioner Teheran yang bertugas mengeksekusi ribuan tahanan politik.

Selesai menempati berbagai posisi penting, pada Maret 2016, Raisi ditunjuk oleh pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei mengepalai tempat suci Imam Reza.

NATIONAL | CHOIRUL AMINUDDIN